Pengalaman kemah
Dulu saya bersekolah di SMP N 2 Secang, saat
saya kelas satu, sekolah mengadakan kemah dan kelas satu wajib untuk
mengikutinya. Kemah dilaksanakan di Sekar langit, Grabag Magelang.
Sampai di sekar langit, para
murid langsung mendirikan tenda, setelah tenda itu jadi cuaca malah tidak
mendukung, lalu hujan turuk. Setelah itu sekolah meminta tolong pada penduduk
sekitar, dan akhirnya para murid pun tidur di rumah penduduk. Hari pun sudah
pagi dan kami belum bida tinggal di tend yang telah kami buat dengan susah
payah, karena volume genangan air masih banyak.
Kegiatan sudah dimulai,
setelah bangun kami langsung sholat subuh bersama, setelah sholat kami memasak
bersama untuk sarapan, setelah itu kami menuju ke tempat mandi umum, setelah
mandi kami jalan santai, menuju ke Mbleder, dari sekar langit cukup jauh, jadi
kami sangat kelelahan, tapi rasa leleh itu hilang setelah kami menikmati
pemandangan yang ada, setelah sore kami kembali menuju tenda.
Malampun sudah tiba, pukul
12 tepat kami dibangunkan dan dikumpulkan dilapangan untuk diberi arahan saat
melaksanakan kegiatan jerit malam dikuburan. Kami harus memasuki kekuburan
satu-persatu, tidak boleh ada anak yang berdua atau lebih, disana kami harus
memegana tali rafiia yang berwarna hitam, didalam kuburan itu sangat gelap,
karena cahayanya hanya lilin, itupun jaraknya jauh-jauh dan hanya sedikit
lilin. Saat itu giliranku telah tiba, aku mau tidak mau harus masuk kekuburan
itu sendirian, didalam kuburan sangat dingin juga gelap, jantungku berdebar
lebih kenjang, aku merasa sangat takut. Setelah acara selesai, semuanya kembali
kerumah penduduk.
Saat sudah pagi, aku
dibangunkan temanku dan kembali kesekolah, lalu pulang kerumah masing-masing.









