Kamis, 04 September 2014

                               Pengalaman kemah

  Dulu saya bersekolah di SMP N 2 Secang, saat saya kelas satu, sekolah mengadakan kemah dan kelas satu wajib untuk mengikutinya. Kemah dilaksanakan di Sekar langit, Grabag Magelang.
Sampai di sekar langit, para murid langsung mendirikan tenda, setelah tenda itu jadi cuaca malah tidak mendukung, lalu hujan turuk. Setelah itu sekolah meminta tolong pada penduduk sekitar, dan akhirnya para murid pun tidur di rumah penduduk. Hari pun sudah pagi dan kami belum bida tinggal di tend yang telah kami buat dengan susah payah, karena volume genangan air masih banyak.
Kegiatan sudah dimulai, setelah bangun kami langsung sholat subuh bersama, setelah sholat kami memasak bersama untuk sarapan, setelah itu kami menuju ke tempat mandi umum, setelah mandi kami jalan santai, menuju ke Mbleder, dari sekar langit cukup jauh, jadi kami sangat kelelahan, tapi rasa leleh itu hilang setelah kami menikmati pemandangan yang ada, setelah sore kami kembali menuju tenda.
Malampun sudah tiba, pukul 12 tepat kami dibangunkan dan dikumpulkan dilapangan untuk diberi arahan saat melaksanakan kegiatan jerit malam dikuburan. Kami harus memasuki kekuburan satu-persatu, tidak boleh ada anak yang berdua atau lebih, disana kami harus memegana tali rafiia yang berwarna hitam, didalam kuburan itu sangat gelap, karena cahayanya hanya lilin, itupun jaraknya jauh-jauh dan hanya sedikit lilin. Saat itu giliranku telah tiba, aku mau tidak mau harus masuk kekuburan itu sendirian, didalam kuburan sangat dingin juga gelap, jantungku berdebar lebih kenjang, aku merasa sangat takut. Setelah acara selesai, semuanya kembali kerumah penduduk.

Saat sudah pagi, aku dibangunkan temanku dan kembali kesekolah, lalu pulang kerumah masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar